Saturday, November 2, 2019

Linguistik Umum : Ferdinand de Saussure

Ferdinand de Saussure adalah tokoh besar dalam bidang linguistik atau yang sering kita dengar sebagai bapak linguistik modern. Saussure terkenal karena teorinya tentang tanda. Nantinya, pada uraian-uraian kita selanjutkan akan lebih banyak membicarakan mengupas tentang tanda yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Akan tetapi, sebelum kita lebih dalam masuk ke ranah tersebut kita harus memahami terlebih dahulu tentang linguistik secara umum. Saussure sendiri tidak pernah mencetak pemikirannya menjadi buku. catatan catatannya dikumpulkan oleh murid-muridnya menjadi sebuah outline. Dua di antara para mahasiswanya  "Charles Bally dan Albert Sechehaye" yang mengumpulkan catatan kuliahnya dan menyusunnya menjadi sebuah buku berjudul "Cours de Linguistique Generale" yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1916 oleh penerbit Payot di Paris, Prancis. Saussure  dilahirkan di Jenewa, Swiss pada tahun 1857. Ia hidup sezaman dengan Sigmund Freud dan Emile Durkheim. Selain sebagai seorang ahli linguistik, ia juga adalah seorang spesialis bahasa-bahasa Indo Eropa dan Sansekerta yang menjadi sumber pembaruan intelektual dalam bidang ilmu ssosial dan kemanusiaan. Saussure kuliah di Universitas Jenewa pada tahun 1875 dengan menempuh kuliah Fisika dan Kimia selama kurang lebih satu tahun dengan hasil yang kurang memuaskan. Selanjutkan, Saussure pindah ke Universitas Leipzig untuk belajar bahasa. Pada usia 21 tahun ia mulai belajar bahasa sansekerta selama 18 bulan, dan pada saat itulah ia menerbitkan memoire-nya yang sangat terkenal, berjudul Memoire sur le systeme primitif des voyelles dans les langues indo-europeennes ( Memoir tentang Sistem Huruf Hidup Primitif dalam Bahasa Indo-Eropa).
               Linguistik adalah ilmu yang mempelajari tentang bahasa. Linguistik sendiri berasal dari bahasa Inggris “Linguistics”, “Linguistique”  dalam bahasa Perancis, “Linguistiek” dalam bahasa Belanda, yang semuanya diturunkan dari bahasa Latin “Lingua” yang artinya adalah bahasa. Dalam perkembangan selanjutkan linguistik sering disebut dengan linguistik umum yang berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari bahasa pada umumnya. Tentunya, yang dipelajari bukan hanya bahasa tertentu saja, melainkan menempatkan bahasa yang ada di dunia ini sebagai bahan kajian. Yang menjadi pertanyaan, apa sih yang menarik dari mempelajari bahasa itu? Bahasa itu unik, setiap daerah mempunyai bahasa yang berbeda yang memiliki ciri khas, pola dan sistem tersendiri. Menurut De Saussure, Bahasa (Langage) mempunyai dua aspek penting ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa di pisahkan antara yang satu dengan yang lain. kedua aspek itu adalah  "Langue", yaitu sistem abstrak yang secara kolektif diketahui dan disadari oleh suatu masyarakat dan menjadi panduan dalam praktik berbahasa, dan "Parole", praktik berbahasa di dalam kehidupan sehari-hari dalam lingkungan bermasyarakat. Kemudian. Kemudian, "Langage" diartikan dalam pengertian umum termasuk gambar, bunyi, dan lain-lain yang tidak termasuk “bahasa alamiah”, dan kedua aspek itu harus dibedakan ( Hoed, 2011 : 10). Hal yang tertulis di atas merupakan sedikit dari pandangan Saussure tentang bahasa.
         Ada beberapa pandangan Saussure yang dikemudian hari menjadi peletak dasar Strukturalisme : Pertama tentang Signifier (penanda) dan signified (petanda), kedua form (bentuk) dan content (isi), ketiga langue (bahasa) dan parole (tuturan, ujaran), keempat synchronic (sinkronik) dan diachronic (diankronik) kelima sintagmatik dan paradigmatik. Berikut akan di ulas secara singkat mengenai kelima hal tersebut.
Pertama Signifiant (Signifier) dan Signified, menurut Saussure bahasa adalah suatu sistem tanda (Sign), dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian yaitu Signifier (Penanda) dan Signified (petanda). De Saussure menggunakan istilah signifiant (Signifer) untuk bentuk dari suatu tanda dan Signified untuk makna dari sebuah tanda. Dengan Demikian, De Saussure melihat Tanda sebagai sesuatu yang menstruktur (proses pemaknaannya berupa kaitan antara penanda dan petanda) dan Terstruktur (hasil proses tersebut) di dalam kognisi manusia. Dalam pengertian De Saussure , hubungan antara bentuk dan makna tidak bersifat pribadi, tetapi sosial, yakni di dasari oleh "Kesepakatan" (Konvensi) Sosial.
Kedua Form dan Content. Istilah Form (bentuk) dan Content (materi,isi) ini oleh Gleason (dalam Sobur : 47) diistilahkan dengan expression dan content, satu berwujud bunyi dan yang lain berwujud idea. Misalnya, di sebuah stasiun ada kereta api yang akan berangkat dari kota A ke kota B pada pukul 06.00 dan sampai di kota B pukul 07.00. Pada hari selanjutnya kita naik kereta api ini lagi dari kota A ke kota B, Hari selanjutnya lagi kita naik kereta api ke kota yang sama dan yang kita katakan kita naik "kereta api yang sama" walaupun gerbong dan lokomotif yang berbeda. Karena kereta api tersebut bisa saja berganti setiap hari. Jadi, bahasa berisi sistem nilai, bukan koleksi unsur yang ditentukan oleh materi, tetapi sistem itu ditentukan oleh perbedaanya.
Ketiga Langue dan Parole. Saussure membedakan tiga istilah dalam bahasa Prancis : Langage, langue (sistem bahasa) dan Parole (ujaran). Langage adalah suatu kemampuan berbahasa yang ada pada setiap manusia dan sifatnya pembawaan, namun pembawaan ini harus dikembangkan di lingkungan bermasyarakat dan stimulus yang menunjang. Sedangkan, Langage adalah bahasa pada umunya. Langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial budaya. "Langue" ada dalam benak (pikiran) seseorang, bukan hanya abstaksi-abstraksi saja. Langue adalah sesuatu yang berkadar individual dan juga sosial universal. Langue dimaksudkan sebagai cabang linguistik yang menaruh perhatian pada tanda-tanda (sign) bahasa atau ada pula yang menyebutnya sebagai kode-kode (code) bahasa ( Kleden - Probonegoro dalam Sobur : 50). Berkabalikan dengan Langue, Parole merupakan bagian dari bahasa yang sepenuhnya individual ( Budiman dalam Sobur : 52 ). Berlainan dengan Langue yang merupakan institusi dan sistem , Parole merupakan tuturan (ujaran) atau suatu tindakan individual yang merupakan seleksi dan aktualisasi.
Keempat Synchronic dan Diachronic. Yang dimaksud dengan studi sinkronis sebuah bahasa adalah studi yang mengkaji tentang keadaan suatu bahasa pada masa atau waktu tertentu. Jadi, dapat dikatakan Linguistik Sinkronis memelajari bahasa tanpa mempersoalkan urutan waktu. contohnya menyelidiki bahasa indonesia pada tahun 1945. Sedangkan yang dimaksud dengan Diakronis adalah  "Linguistik" Diakronis adalah subdisiplin linguistik yang menyelediki perkembangan suatu bahasa dari masa ke masa.  Misalnya, menyelidiki perkembangan bahasa indonesia  (dulu disebut bahasa melayu) sampai sekarang.
Kelima Syntagmatic dan Assosiative ( Paradigmatic). Konsep ini menyangkut sifat relasi (hubungan) antarkomponen dalam struktur dan sistem. Relasi Sintagmatik adalah relasi antarkomponen dalam struktur yang sama, sedangkan relasi paradigmatik adalah relasi antara komponen dalam suatu struktur dan komponen lain di luar struktur itu ( yang terakhir sifatnya asosiatif ). Contohnya (1) Anjing menggigit Ali (2) Ali menggigit Anjing. Dalam (1) di atas, relasi antara anjing, menggigit, dan Ali sudah tertentu sesuai dengan urutannya dan mempunyai makna tertentu. Jika urutannya berubah seperti (2) maka maknanya pun akan berubah. Secara Asosiatif, anjing merupakan satu dari sejumlah kata yang berkaitan secara maknawi, seperti kucing, harimau, tikus, ular. Begitu pula menggigit mempunyai relasi asosiatif dengan memakan, menerkam atau melukai, dan Ali berkaitan secara relasional dan asosiatif dengan Ahmad, Munir, atau, joni. Hubungan ini absentia dan asosiatif ini disebut relasi paradigmatik dan terjadi dengan komponen diluar struktur.

No comments:

Post a Comment